Sabtu, 16 November 2013

BERBURU "IBU"

Demi melepaskan rindu menonton teater, pekan lalu (13 November 2013) saya menyempatkan diri menyaksikan lakon "Ibu" yang dimainkan Teater Koma di Graha Bakti Budaya, TIM, Jakarta.



"ibu" diterjemahkan N. Riantiarno (yang sekaligus bertindak selaku sutradara) dari naskah drama karya Bertolt Brecht yang berjudul asli Mutter Courage und Ihre Kinder). Nano menerjemahkannya dari versi bahasa Inggris: Mother Courage and Her Children. Naskah ini diselesaikan Brecht pada 1941.



Berperan sebagai Mother Courage atau Ibu Brani adalah Sari Madjid. Dia memiliki 3 orang anak dari 3 laki-laki yang berbeda. Dua putranya direkrut paksa menjadi tentara dan akhirnya mati karena perang. Demikian juga nasib putri semata wayangnya yang bisu.




"Ibu" berpesan tentang perang yang tak ada gunanya. Tak ada pemenang dalam perang. Kata Brecht, "Dalam perang, yang kalah dan yang menang hanya akan menerima kerugian. Semuanya kalah."



Naskah kali ini cukup serius, tidak seperti kebanyakan lakon yang dipentaskan Teater Koma. Tidak ada dialog-dialog lucu yang menyindir pejabat kita yang selama ini menjadi menu khas Koma. Humor tetap ada, tapi tidak sampai membuat kita terpingkal-pingkal. (Ya iyalah, ini kan bukan drama komedi! :P)



Jempol saya untuk Samuel Wattimena yang menggarap kostumnya. Keren banget. Juga tata artistik panggung yang dikerjakan oleh Untari dkk. Suasana Eropa pada tahun 1600-an cukup terwakili di panggung.




Pementasan ini berlangsung 1-17 November 2013.

Kamis, 29 Agustus 2013

BERBURU DRUPADI

Setelah sempat tertunda, akhirnya tadi siang (29 Agustus 2013) saya menyempatkan diri menikmati pameran keramik karya F. Widayanto. Saya belum pernah melihat pameran karya seniman berusia 60 tahun ini. Inilah pertama kalinya saya mendengar namanya dan menyatroni pamerannya yang diberi judul DRUPADI PANDAWA DIVA.


Sebagai pelengkap pameran, F. Widayanto juga menerbitkan buku dengan judul yang sama dengan pamerannya. Buku luks tersebut dijual dengan harga Rp 250.000,-. Ada sebuah buku contoh yang sengaja diletakkan di ruang tengah pameran-- Galeri Nasional, Jakarta--agar bisa dibaca para pengunjung. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Maka tahulah saya bahwa pameran ini digelar untuk merayakan 30 tahun kiprah F. Widayanto sebagai seniman tembikar. Bukan waktu yang singkat. Itu sama dengan separuh usianya. 

Dari buku itu pula saya mengulik beberapa informasi tentang dia dan karya-karyanya. Rupanya, F. Widayanto seniman yang menggandrungi wayang. Beberapa pameran sebelumnya juga mengambil tema wayang: Semar, Loro-Blonyo, dan Ganesha-Ganeshi. 


Kali ini dia menampilkan sosok Drupadi, istri Pandawa Lima.  Dalam 30 karya patung yang dipamerkan itu, F. Widayanto mengeksplorasi karakter Drupadi menurut tafsirannya. 


Dan yang saya tangkap, Widayanto menafsirkan Drupadi sebagai perempuan bertubuh seksi, buah dada besar, punya tahi lalat kecil di dekat dagu sebelah kanan, berambut cokelat tanah yang panjang menjuntai, bermata cemerlang, sensual, dan menantang. Drupadi adalah seorang perempuan yang menyadari betul kecantikannya. Beberapa di antaranya mengingatkan saya pada boneka Barbie.



Namun, jangan ditanya keindahannya. Luar biasa. Empat jempol deh. Benar-benar karya yang cantik dan membuat saya ternganga mengagumi detail-detailnya yang rumit. Pantaslah jika patung-patung tersebut berharga ratusan juta rupiah. Kata petugas pameran, patung termahal di pameran itu dijual dengan harga empat ratus lima puluh ribu rupiah. Patung itu berjudul: Dru Vs Dur yang menggambarkan adegan paling terkenal dari episode Drupadi: saat Dursasana berusaha menelanjanginya dengan menarik kain yang dikenakannya. Tapi berkat pertolongan dewa-dewa, kain yang dipakai Drupadi itu tiba-tiba menjadi sangat panjang sehingga Dursasana tak pernah selesai menariknya dan Drupadi pun selamat. Perempuan jelita itu lalu bersumpah tidak akan menggelung dan mengeramas rambutnya sampai Dursasana mati. Saat itulah Dru akan keramas dengan darah Dur.. 


Dan ketika akhirnya Dur mati ditangan Bima, Drupadi pun memenuhi sumpahnya. Ia keramas dengan berember-ember darah Dursasana. Oh, saya paling suka bagian ini.

Menurut keterangan di buku tadi, patung-patung ini dibuat dari bahan dasar yang disebut "stoneware", yaitu tanah liat yang dicampur dengan bahan batuan. Jadi, bukan terakota atau porselen.

Terlepas dari tafsir Widayanto, patung-patung keramik Drupadi ini sungguh sedap dipandang mata. Sebuah karya seni tingkat tinggi yang mengagumkan.


Sabtu, 10 Agustus 2013

BERBURU UANG LEBARAN

Lebaran buat anak-anak adalah kegembiraan. Selain berpakaian serbabaru, Lebaran juga menjadi ajang berburu rezeki atau angpao dari para orang dewasa.

Di kampung saya, Klender, tradisi memberi uang kepada anak-anak kecil masih berlangsung hingga kini. Biasanya anak-anak yang berbahagia itu memulai perburuan mereka selepas Salat Id. Mereka menyerbu dari rumah ke rumah, bersalaman, cium tangan dengan para orang tua. Para orang tua telah menyiapkan angpao mulai pecahan Rp 2.000,- hingga Rp 50.000,- Ada juga sih yang memberi hingga Rp 100.000,-


Keponakan  saya, Mika (12) dan Risa (11), termasuk di antara para pemburu angpao itu. Bersama teman-teman mereka, mereka bersilaturahmi keliling RT. Tak sampai 2 jam perburuan itu selesai dan mereka pun menghitung hasilnya di teras rumah kami. Dan rata-rata perolehan mereka mencapai Rp 250.000,-. Wah....


Ah, saya jadi ingat masa kecil dulu. Seingat saya, saya tidak seberuntung Mika dan gengnya itu. Saya keliling juga bersalam-salaman, tetapi saya dulu anak yang pemalu--tepatnya nggak pede--sehingga cuma berani keliling ke tetangga kiri-kanan rumah saja, tak sampai satu RT.


Selamat Lebaran 2013. Mohon maaf lahir dan batin :)




Minggu, 04 Agustus 2013

BERBURU ES KRIM

Saya penggemar es krim, terutama es krim cokelat. Saya percaya dan telah membuktikan bahwa makan es krim bisa mengubah hati yang gundah menjadi ceria.


Di Bandung, ada satu restoran yang hampir selalu saya singgahi setiap kali ke sana karena es krimnya yang lezat. Braga Permai, itulah nama restoran tersebut. Letaknya di Jl. Braga yang terkenal itu.


 Braga Permai berdiri pada 1923, zaman Hindia Belanda, dengan nama Maison Borgerijen. Dulunya, restoran ini memang tempat makan orang-orang Belanda. Menu yang disajikannya pun makanan-makanan Eropa, khususnya Belanda. Es krim adalah alah satu menu originalnya yang masih tetap bertahan hingga kini.


Ada kira-kira 10 macam/rasa es krim yang bisa kita dapatkan di sini. Semuanya hasil olahan rumahan, bukan pabrikan. Teksturnya lembuuuuut sekali. Meleleh dengan indah di lidah. Favorit saya adalah Swiss Doodle yang cokelat. Tapi, rasa yang lain pun tak kalah nikmat. Harganya juga terjangkau. Kalau tak salah kisaran Rp 10.000,- s.d. 25.000,- per porsi. Dan biasanya, saya tidak puas jika hanya menyantap satu porsi :D




Kamis, 01 Agustus 2013

BERBURU KOPI

Saya bukan peminum kopi. Dulu sih masih suka juga minum sesekali, tapi sejak mengalami gemetar ujung-ujung jari, saya berhenti mengonsumsi kopi. Salah satu yang saya sukai dari kopi adalah aromanya, terutama saat diseduh atau ketika digiling.

Buat penggemar kopi, nama Kopi Aroma tentu tidak asing lagi. Toko yang sekaligus merangkap pabrik penggilingan kopi ini terletak di Jl. Banceuy No. 51, Bandung. Bangunannya tepat di sudut jalan, sudah tua dan tampak tak terawat. Namun, setiap hari, dari pagi hingga menjelang petang, orang berbaris mengantre kopinya. Seperti tikus-tikus yang terbius tiupan seruling, para pelanggan itu seolah terbius aroma kopi yang digiling.


Sejarah Kopi Aroma dimulai pada tahun 1930; dilahirkan oleh seorang pria Tionghoa: Tan Houw Sian. Tokonya menjual dua jenis kopi: arabika dan robusta. Kopi-kopi arabika dia datangkan dari Gayo, Medan, Toraja, Ciwedey, dan Pangalengan. Dan untuk robusta, biji-biji kopinya dia ambil dari Bengkulu, Lampung, Temanggung, dan Wonosobo.


Yang membuat Kopi Aroma menjadi istimewa karena biji-biji kopi tersebut digiling dengan cara tradisional. Sebelum digiling, biji-biji kopi itu dijemur di bawah sinar matahari dan kemudian disimpan dalam karung-karung. Tahu nggak berapa lama calon-calon kopi bubuk itu disimpan sebelum digerus? Lima tahun untuk kopi robusta dan 8 tahun untuk kopi arabika! Saya juga baru tahu :D.


Kini, toko itu dikelola Pak Widyapratama, putra semata wayang Koh Tan. Bersama istri dan beberapa pegawainya, Pak Widya melayani para pembeli dengan ramah dan bersahaja. Dia menjual kopinya dalam kantong-kantong kertas @ 250 gram dengan harga Rp 12.500,- untuk robusta dan Rp 17.500,- untuk arabika. Itu harga tahun lalu (2012) waktu saya berkunjung ke sana.

Kata teman saya, kadang-kadang Pak Widya memperkenankan pembelinya menggiling dan menyeduh sendiri kopi yang hendak diminum di tokonya. Sayang, saya kurang beruntung, tak bisa ikut menyeduh dan menggiling kopi.




BERBURU LAMBORGHINI

Hari ini saya membaca berita tentang Ustaz Solmed yang bersahur on the road sambil mengendarai Lamborghini. Wow... berarti penghasilan seorang ustaz itu gede juga, ya, sampai bisa membeli sebuah mobil mewah yang harganya bukan jutaan lagi tapi milyaran.


Berita tersebut mengingatkan saya pada acara hunting foto Lamborghini di Kota Tua yang saya ikuti beberapa tahun lalu. Di pelataran  Museum Fatahillah diparkir sekitar 15 unit Lamborghini dengan berbagai warna dan model. Mobil-mobil mewah itu, konon, hanya dimiliki segelintir orang kaya di negeri ini  (kabarnya sih tak sampai 100 orang pemilik Lambo di Indonesia).


Pabrik mobil mewah ini pertama kali dibangun di Italia oleh Ferruchio Lamborghini pada 1963. Masuk ke Indonesia sejak 2009, dan hingga kini sudah lebih dari 100 unit Lambo yang terjual di sini. Indonesia memang pasar yang empuk bagi barang-barang mewah, meskipun masih banyak rakyatnya yang miskin, yang untuk makan saja susah.


 Gimana ya rasanya naik mobil seharga 11 milyar? Kata si ustaz sih rasanya sama seperti naik angkot. Kasihan bener ya si ustaz :D








Selasa, 30 Juli 2013

BERBURU KUPU-KUPU

Dulu banget, zaman masih kuliah, saya pernah kemping dengan  teman-teman di kawasan  Taman Wisata Curug Cilember. Curug dalam bahasa Sunda artinya air terjun. Ya, di sana memang terdapat air terjun, bahkan konon ada 7 buah. Tapi bahwa di sana juga ad ataman kupu-kupu, saya baru tahu belakangan.


Curug Cilember terletak di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Kalau dari Jakarta, ia berada di sebelah kiri JL. Raya Puncak, tak jauh dari Pasar Cisarua. Dari jalan raya masuk ke dalam sekitar 3 km. Tidak ada angkot ke dalam, hanya ada ojek. Mungkin tarifnya Rp 10.000,-

Objek utamanya adalah air terjun yang berjumlah 7 buah, tetapi saya dan teman-teman cuma melihat 1 saja, yang besar. Objek lainnya: taman kupu-kuupu.


Dalam bayangan saya, taman kupu-kupu itu ya benar-benar berbentuk taman bunga terbuka yang luas dengan aneka jenis kupu-kupu bersayap warna-warni. Bukankah yang kita nikmati saat memandang kupu-kupu adalah kecantikan sayapnya?


Rupanya pengharapan saya agak berlebihan. Taman kupu-kupu khayalan saya harus hancur berantakan saat menemui kenyataan: sepetak kecil taman tak terurus di dalam sebuah kubah tembus pandang (teralis) dengan sedikit kupu-kupu. Benar-benar merana “kerangkeng” ini. Namun, baiklah. Saya nikmati saja dengan mulai memburu kupu-kupu itu, menjeratnya ke dalam lensa kamera, dan mengabadikannya di sana.






DIENG: SEPOTONG SURGA

Sejarah
Berada di ketinggian lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut, Plato Dieng konon merupakan plato tertingi kedua di dunia setelah Tibet.  Secara administratif Dieng berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah.  Berada sekitar 116 kilometer dari Yogyakarta. Di ketinggian tersebut, suhu harian di luar ruangan bisa mencapai 9 derajat celcius. Biasanya itu terjadi pada menjelang tengah malam.  Pada siang hari udara terasa sejuk meskipun matahari bersinar terik. Paduan suhu sejuk dan keindahan alam ini membuat Dieng menjadi daerah tujuan wisata favorit di Provinsi Jawa Tengah setelah Yogyakarta.

Nama Dieng berasal dari kata “di” yang bermakna gunung, dan “hyang” yang artinya dewa.  Jadi, kedua kata tersebut dalam bahasa Kawi jika digabungkan memiliki arti gunung tempat bersemayam dewa-dewi.
Menurut sejarah geologinya, dataran tinggi ini, terbentuk akibat letusan sebuah gunung berapi yang sangat dahsyat. Hal ini terbukti dengan banyaknya kawah aktif yang tersebar di beberapa tempat dan kini menjadi obyek wisata. Kawah-kawah ini sesungguhnya berada di sebuah kaldera raksasa dengan bukit-bukit yang merupakan tepinya. Kawah-kawah tersebut mengeluarkan gas panas dan material vulkanik lainnya. Di sana juga masih sering terjadi gempa bumi vulkanik, meskipun getarannya tidak besar.



Selain kawah, gunung api yang meletus hebat itu juga melahirkan telaga-telaga cantik. Telaga-telaga itu sebenarnya adalah danau-danau vulkanik yang airnya telah terkontaminasi belerang sehingga menimbulkan warna hijau kekuningan.


Transportasi
Dieng dapat dicapai melalui jalan darat dengan menggunakan mobil atau kereta api. Dari Jakarta, jarak tempuhnya memakan waktu 8 hingga 10 jam jika memakai mobil, baik lewat jalur Pantura maupun jalur selatan.  Buat yang memakai kendaraan umum, bisa naik bus jurusan Jakarta-Wonosobo dan turun di Terminal Wonosobo. Dari terminal Wonosobo Anda bisa naik minibus jurusan Dieng-Batur. Lama perjalanan kira-kira 30-45 menit.  Kalau menggunakan kereta, turun di Stasiun Purwokerto, lalu dengan taksi atau mobil carteran menuju ke Terminal Wonosobo. Dari terminal tinggal naik minibus jurusan Dieng-Batur tadi.

Penginapan
Buat pengunjung yang datang dari luar kota dan ingin menginap, tidak perlu khawatir, karena di Dieng tersedia banyak sekali penginapan, baik berupa hotel maupun homestayHomestay-homestay ini kebanyakan milik penduduk setempat. Biasanya satu homestay terdiri dari 3 sampai 5 kamar. Masing-masing kamar boleh diisi tiga orang. Fasilitasnya macam-macam, tergantung harga. Homestay-homestay ini disewakan per kamar.  Tarif per kamarnya mulai dari Rp 150.000,- hingga Rp 300.000,- semalam. Jika Anda berkunjung ke sana pada musim liburan, sebaiknya lebih dulu memesan penginapan agar tidak perlu repot-repot lagi mencarinya di sana.

Obyek Wisata
Sebagai daerah wisata, yang dijual Dieng adalah pesona keindahan panorama dataran tinggi yang bertetangga dengan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Kita akan disambut oleh lansekap yang menakjubkan sejak tiba di “pintu masuk” Dieng. Jika cuaca cerah dan langit tanpa awan, kita bisa menyaksikan kedua gunung kembar itu menjulang di kejauhan, seolah-olah melayang-layang di kebiruan langit, menyajikan sebuah pemandangan yang tidak akan kita temukan di kota besar. Hamparan ladang tembakau di kiri kanan jalan ikut menambah keindahan. Semakin lengkap ketika melewati perbukitan Dieng yang dipenuhi kebun-kebun kubis, kentang, dan kacang tanah. Kebun-kebun ini dibuat secara terasering, mengikuti kontur lereng-lereng bukit. Sejauh mata menatap, hanya warna hijau segar yang tampak. Sayangnya, kabel-kabel listrik yang berseliweran sering mengganggu pemandangan, terutama saat kita ingin memotret.


Ada beberapa obyek wisata di Dieng yang layak dikunjungi, antara lain: Telaga Warna, Telaga Pengilon, Kawah Sikidang, sunrise di Bukit Sikunir, dan candi-candi Hindu (Arjuna, Semar, Srikandi, Gatotkaca, dan Bima). Selain itu, biasanya pada akhir Juni atau awal Juli digelar Dieng Culture Festival yang menampilkan pertunjukan seni budaya dan tradisi setempat, termasuk upacara pemotongan rambut anak-anak gimbal.
Telaga Warna adalah telaga yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Daya tariknya ada pada airnya yang beraneka warna: hijau, kuning, biru, dan kadang-kadang merah. Warna merah adalah pantulan warna ganggang yang banyak tumbuh di dasar telaga, sedangkan kuning dan hijau disebabkan oleh belerang. Bersebelahan dengan Telaga Warna adalah Telaga Pengilon. Dalam bahasa Jawa, pengilon bermakna cermin, cocok dengan air di telaga ini yang biru bening serupa cermin memantulkan refleksi semua benda di atasnya.



Kompleks Candi Arjuna tak kalah menarik untuk dikunjungi. Kumpulan candi Hindu Syiwa ini dibangun sekitar abad ke-8 jika merujuk keterangan pada sebuah prasasti di sana yang berangka tahun 808 M dalam huruf Jawa kuno. Tepatnya ada empat unit bangunan candi di kompleks Candi Arjuna ini, yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Gatotkaca, dan Candi Srikandi.  Sebenarnya masih ada lagi beberapa candi lain, tetapi sudah tinggal reruntuhannya saja. Sebuah lagi, Candi Bima, berada agak jauh di luar kompleks tersebut. Keberadaan candi-candi ini menunjukkan bahwa dahulu kala di situ pernah berdiri sebuah kerajaan  Hindu.


Seperti telah disebut di atas, sebagai bekas gunung api, di Dieng terhampar beberapa kawah aktif yang menyajikan panorama tersendiri. Kepulan asap putih beraroma belerang adalah sebuah fenomena alam yang bisa kita nikmati sembari mengagumi kebesaran Sang Pencipta. Salah satunya adalah Kawah Sikidang. Semburan gas di sini relatif aman sehingga kita bisa berdiri di bibir kawah, tidak seperti Kawah Sinila yang beracun dan pernah memakan korban hingga ratusan jiwa pada 1979.  Meski demikian, kita tetap harus berhati-hati. Untuk menuju ke tepi kawah, bisa juga dengan berkuda yang tarifnya Rp 10.000,-.



Dari semua pesona alam Dieng, yang paling fantastis adalah menonton matahari terbit di Bukit Sikunir. Ini obyek wisata yang “wajib” dilihat oleh setiap wisatawan. Rasanya belum sah jalan-jalan kita ke Dieng kalau belum menonton the sunrise show ini. Memang untuk mencapai puncak bukit tersebut kita harus mendaki dulu pada dini hari dalam hawa dingin yang menusuk tulang. Sangat disarankan untuk memakai pakaian tebal, sarung tangan, kaus kaki, dan kupluk. Bagian mendaki ini cukup melelahkan bagi yang tidak terbiasa berjalan jauh. Tetapi, semua rasa letih itu langsung terbayar lunas begitu kita tiba di atas dan menjadi saksi mata kemunculan sang surya membuka hari. Berada di atas awan dengan tiga buah gunung mengelilingi serta pemandangan matahari terbit di ufuk dalam remang langit jingga, sungguh membuat kita sejenak merasa di surga.  Percayalah, bagian ini akan menjadi momen terbaik dan terindah yang akan selalu dikenang. Kuncinya, jangan sampai terlambat berangkat agar tidak kesiangan tiba di puncak. Umumnya, para pelancong sudah mulai berangkat pada pukul tiga pagi. Keuntungannya berangkat pagi selain tidak ketinggalan show juga bisa memilih “kursi” terbaik, terutama untuk yang ingin memotretnya.


Festival Dieng
Setiap pertengahan tahun, Dieng menggelar sebuah festival budaya yang diberi nama Dieng Culture Festival. Acara ini tepatnya diselenggarakan di kawasan kompleks Candi Arjuna. Selama 3 hari 3 malam berlangsung keramaian layaknya sebuah pesta yang menyaijkan aneka hiburan kesenian dan budaya Dieng. Mulai dari pertunjukan musik, tari-tarian, wayang kulit, hingga puncaknya berupa ruwatan gembel (anak-anak berambut gimbal).  Inilah bagian yang paling ditunggu-tunggu oleh wisatawan karena hanya terjadi satu tahun sekali.


Keberadaan anak-anak berambut gimbal ini menjadi fenomena unik yang mengundang perhatian publik luar Dieng.  Mereka mendapat perlakuan istimewa karena masyarakat di sana meyakini bahwa anak-anak berambut gimbal ini adalah bajang titipan Ratu Kidul. Anda boleh tidak percaya, tetapi rambut gimbal itu konon tidak bisa dihilangkan hanya dengan mengguntingnya di salon atau tukang cukur, tetapi harus melalui sebuah ritual ruwatan.  Sebab, jika dipotong tanpa melalui ruwatan, rambut gimbal itu akan tumbuh kembali dan si anak akan sakit-sakitan. Diyakini pula bahwa ruwatan anak gimbal ini bisa menghindarkan mereka dari bencana. Tidak ada batasan umur untuk melakukan acara ruwatan ini, tergantung permintaan si pemilik rambut gimbal.  Namun, umumnya dilaksanakan ketika anak-anak itu berumur tujuh tahun ke atas. Tahun ini ada enam orang anak gimbal yang diruwat. Upacaranya berlangsung di pelataran Candi Arjuna, disaksikan ribuan pasang mata para wisatawan. 



Sebelum diruwat, keenam anak tersebut harus dikeramas dulu dalam sebuah upacara.  Mereka diarak dalam sebuah kirab menuju tempat pencucian rambut yang terletak tak jauh dari kompleks Candi Arjuna. Mereka juga boleh mengajukan permintaan apa saja.  Dan permintaan itu harus dikabulkan oleh orang tua mereka. Lucu-lucu permintaan anak-anak yang polos itu. Mulai dari permen, susu kotak, wedus (kambing), hingga anting-anting. Katanya sih, permintaan itu merupakan keinginan indang, makhluk gaib penjaga anak-anak gimbal itu. Ruwatan potong rambut tidak bisa dilaksanakan sebelum permintaan si anak terpenuhi. Untung tidak ada yang minta mobil, ya? Repot juga mengabulkannya.

Aneka sesaji berupa tumpeng warna-warni, buah-buahan, dan jajan pasar disertakan dalam upacara yang telah berlangsung secara turun-temurun selama bertahun-tahun. Pelaku pemotongan rambut biasanya adalah para tetua adat dan pejabat daerah, seperti bupati dan wakilnya Karena kekhasannya, ruwatan ini kemudian dilakukan massal dalam sebuah festival budaya yang bisa disaksikan publik, terutama wisatawan dari luar Dieng. Pada saat inilah jumlah wisatawan ke Dieng mencapai puncaknya.



Kuliner
Tak sempurna rasanya jika jalan-jalan ke suatu tempat wisata tanpa mencicipi kuliner khasnya. Nah, di Dieng ini kuliner yang terkenal adalah mi ongklok. Sekilas penampilannya dalam mangkuk mirip dengan mi ayam. Mi ongklok ini mi rebus berkuah kental (loh), ditambah kubis dan daun kucai. Rasanya manis-manis gurih, mirip mi yamin. Lebih nikmat jika dimakan selagi panas dengan sate daging sapi dan tempe kemul, Pas betul sebagai hidangan pengusir dingin. Harganya berkisar antara Rp 7.500,- hingga Rp 10.000,- per porsi.
Selain sebagai teman makan mi ongklok, tempe kemul juga bisa dikudap sebagai cemilan. Tempe kemul adalah sebutan bagi tempe goreng tepung. Dimakannya dengan cabe rawit selagi hangat. Harganya tak jauh beda dengan harga di Jakarta: Rp 500,- hingga Rp 1.000,- per potong.

 Sebagai penghasil kentang tak heran jika di Dieng ini banyak kita temukan cemilan berupa kentang goreng ala restoran cepat saji. Kentang goreng ini memiliki rasa yang khas. Seperti kentang goreng umumnya, kentang goreng ala Dieng ini juga lebih enak dimakan dengan saus atau mayones. Kentang-kentang ini dijual dengan harga Rp 5.000,- per porsi.

Berikutnya adalah keripik jamur. Dieng sangat terkenal sebagai penghasil jamur. Jamur-jamur itu diolah menjadi keripik renyah yang digoreng dengan ataupun tanpa tepung. Harganya lumayan mahal, sekitar Rp 10.000,- sampai Rp 12.000,- per bungkus ukuran kurang dari seperempat kilo. Keripik jamur ini cocok sebagai oleh-oleh, karena tahan lama, ringan, dan mudah membawanya.

Yang juga sangat terkenal dan konon hanya ada di Dieng adalah carica, yaitu manisan pepaya yang dikemas dalam botol atau mangkuk-mangkuk plastik. Mengapa cuma ada di Dieng? Sebab, carica ini dibuat dari buah pepaya mini seukuran labu siam mini yang hanya tumbuh di lereng-lereng Plato Dieng. Sepanjang jalan kita dapat dengan mudah menemukan pohon-pohonnya yang sarat buah.

Dan yang tidak boleh lupa disebut dalam daftar oleh-oleh tentu saja purwaceng, minuman lokal yang dibuat dari tanaman sejenis ginseng. Tadinya, tanaman ini adalah tanaman yang tumbuh liar di hutan-hutan, tetapi seiring dengan meningkatnya popularitas tanaman ini, masyarakat di sana kemudian mulai membudidayakannya. Tanaman yang bernama Latin pimpinela alpina ini dipercaya memiliki khasiat sebagai “obat kuat” bagi para pria. Rasanya sebenarnya tidak istimewa, nyaris tawar saja jika dikonsumsi tanpa gula atau campuran lainnya. 

Tips
Bagi kamu yang ingin berkunjung ke Dieng, sebaiknya tidak lupa membawa barang-barang sebagai berikut:

- Baju hangat/sweater/jaket/sarung sebagai penangkal hawa dingin.
- Sepatu kets yang nyaman untuk dipakai berjalan jauh dan mendaki mengingat wisata di Dieng ini lebih       banyak berupa wisata alam yang mengharuskan kita berjalan kaki, karena banyak tempat yang tidak     terjangkau kendaraan. (Nggak mungkin kan ke puncak bukit pakai mobil?)
- Kaus kaki, sebaiknya yang terbuat dari bahan wol.
- Sarung tangan, sebaiknya juga yang terbuat dari bahan wol.
- Topi atau kupluk , juga dari bahan wol.
 Kacamata hitam untuk melindungi mata dari sinar matahari yang terik.
- Masker, sangat diperlukan saat mengunjungi kawah-kawah belerang dan saat berjalan di jalan tanah yang berdebu. 
- Senter, untuk penerangan saat hiking ke Bukit Sikunir. Maklum, jalannya kan pagi-pagi buta.
Lotion pelembap kulit, agar kulit tidak kering di suhu yang dingin
Lipgloss, agar bibir tidak kering dan pecah-pecah di suhu yang dingin. 
- Kamera beserta baterai cadangan dan charger-nya. Pastinya ini barang yang wajib dibawa oleh setiap wisatawan  Kalau perlu bawa juga memory card cadangan sebagai antisipasi siapa tahu kita mendadak kalap memotret melihat panorama yang menggiurkan mata itu.
- Obat-obatan pribadi.


Selamat berwisata!

TARI SAMAN

Sedianya saya ingin menonton konser Leo Kristi bersama teman-teman LKer's, tetapi saya keliru membaca informasi di grup. Saya pikir acaranya di halaman Museum Sejarah Jakarta atau yang lebih dikenal dengan nama Museum Fatahillah di Kota Tua. Setiba saya di sana, alih-alih Leo Kristi yang saya dapati malah kemeriahan Festival Tari Saman. 

Di tengah panggung raksasa yang dibangun persis di depan Museum, kelompok-kelompok peserta festival bergiliran unjuk kebolehan. Bukan cuma dari Aceh, asal tarian ini, tetapi juga dari daerah-daerah lain, seperti Cirebon dan Yogyakarta. Bukan cuma pria, tetapi juga para perempuan.

Dinamakan tari Saman karena penciptanya adalah Syekh Saman, seorang ulama Aceh yang hidup sekitar abad ke-14 Masehi (hasil googling :P). Tarian ini bermula dari Tanah Gayo. Waktu itu tarian ini merupakan permainan rakyat, tapi kemudian ditambahkan syair-syair pujian kepada Allah dan Rasullullah Muhammada saw. 

Yang menarik dari tarian ini adalah kekompakan para penarinya yang umumnya terdiri atas 10 orang lebih dan harus ganjil jumlahnya.