Buat penggemar kopi, nama Kopi Aroma tentu tidak asing lagi. Toko yang sekaligus merangkap pabrik penggilingan kopi ini terletak di Jl. Banceuy No. 51, Bandung. Bangunannya tepat di sudut jalan, sudah tua dan tampak tak terawat. Namun, setiap hari, dari pagi hingga menjelang petang, orang berbaris mengantre kopinya. Seperti tikus-tikus yang terbius tiupan seruling, para pelanggan itu seolah terbius aroma kopi yang digiling.
Sejarah Kopi Aroma dimulai pada tahun 1930; dilahirkan oleh seorang pria Tionghoa: Tan Houw Sian. Tokonya menjual dua jenis kopi: arabika dan robusta. Kopi-kopi arabika dia datangkan dari Gayo, Medan, Toraja, Ciwedey, dan Pangalengan. Dan untuk robusta, biji-biji kopinya dia ambil dari Bengkulu, Lampung, Temanggung, dan Wonosobo.
Yang membuat Kopi Aroma menjadi istimewa karena biji-biji kopi tersebut digiling dengan cara tradisional. Sebelum digiling, biji-biji kopi itu dijemur di bawah sinar matahari dan kemudian disimpan dalam karung-karung. Tahu nggak berapa lama calon-calon kopi bubuk itu disimpan sebelum digerus? Lima tahun untuk kopi robusta dan 8 tahun untuk kopi arabika! Saya juga baru tahu :D.
Kini, toko itu dikelola Pak Widyapratama, putra semata wayang Koh Tan. Bersama istri dan beberapa pegawainya, Pak Widya melayani para pembeli dengan ramah dan bersahaja. Dia menjual kopinya dalam kantong-kantong kertas @ 250 gram dengan harga Rp 12.500,- untuk robusta dan Rp 17.500,- untuk arabika. Itu harga tahun lalu (2012) waktu saya berkunjung ke sana.
Kata teman saya, kadang-kadang Pak Widya memperkenankan pembelinya menggiling dan menyeduh sendiri kopi yang hendak diminum di tokonya. Sayang, saya kurang beruntung, tak bisa ikut menyeduh dan menggiling kopi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar