Sejarah
Berada di ketinggian lebih dari
2000 meter di atas permukaan laut, Plato Dieng konon merupakan plato tertingi
kedua di dunia setelah Tibet.
Secara administratif Dieng berada di
wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah. Berada sekitar 116 kilometer dari Yogyakarta. Di ketinggian tersebut, suhu harian di luar
ruangan bisa mencapai 9 derajat celcius. Biasanya itu terjadi pada menjelang
tengah malam. Pada siang hari udara
terasa sejuk meskipun matahari bersinar terik. Paduan suhu sejuk dan keindahan
alam ini membuat Dieng menjadi daerah tujuan wisata favorit di Provinsi Jawa
Tengah setelah Yogyakarta.
Nama Dieng berasal dari kata
“di” yang bermakna gunung, dan “hyang” yang artinya dewa. Jadi, kedua kata tersebut dalam bahasa Kawi
jika digabungkan memiliki arti gunung tempat bersemayam dewa-dewi.
Menurut sejarah geologinya,
dataran tinggi ini, terbentuk akibat letusan sebuah gunung berapi yang sangat
dahsyat. Hal ini terbukti dengan banyaknya kawah aktif yang tersebar di
beberapa tempat dan kini menjadi obyek wisata. Kawah-kawah ini sesungguhnya
berada di sebuah kaldera raksasa dengan bukit-bukit yang merupakan tepinya. Kawah-kawah
tersebut mengeluarkan gas panas dan material vulkanik lainnya. Di sana juga masih sering
terjadi gempa bumi vulkanik, meskipun getarannya tidak besar.
Selain kawah, gunung api yang
meletus hebat itu juga melahirkan telaga-telaga cantik. Telaga-telaga itu
sebenarnya adalah danau-danau vulkanik yang airnya telah terkontaminasi belerang
sehingga menimbulkan warna hijau kekuningan.
Transportasi
Dieng dapat dicapai melalui
jalan darat dengan menggunakan mobil atau kereta api. Dari Jakarta, jarak
tempuhnya memakan waktu 8 hingga 10 jam jika memakai mobil, baik lewat jalur
Pantura maupun jalur selatan. Buat yang
memakai kendaraan umum, bisa naik bus jurusan Jakarta-Wonosobo dan turun di
Terminal Wonosobo. Dari terminal Wonosobo Anda bisa naik minibus jurusan
Dieng-Batur. Lama perjalanan kira-kira 30-45 menit. Kalau menggunakan kereta, turun di Stasiun
Purwokerto, lalu dengan taksi atau mobil carteran menuju ke Terminal Wonosobo.
Dari terminal tinggal naik minibus jurusan Dieng-Batur tadi.
Penginapan
Buat pengunjung yang datang
dari luar kota
dan ingin menginap, tidak perlu khawatir, karena di Dieng tersedia banyak
sekali penginapan, baik berupa hotel maupun homestay. Homestay-homestay
ini kebanyakan milik penduduk setempat. Biasanya satu homestay terdiri dari 3 sampai 5 kamar. Masing-masing kamar boleh
diisi tiga orang. Fasilitasnya macam-macam, tergantung harga. Homestay-homestay ini disewakan per
kamar. Tarif per kamarnya mulai dari Rp
150.000,- hingga Rp 300.000,- semalam. Jika Anda berkunjung ke sana
pada musim liburan, sebaiknya lebih dulu memesan penginapan agar tidak perlu
repot-repot lagi mencarinya di sana.
Obyek
Wisata
Sebagai daerah wisata, yang
dijual Dieng adalah pesona keindahan panorama dataran tinggi yang bertetangga
dengan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Kita akan disambut oleh lansekap yang
menakjubkan sejak tiba di “pintu masuk” Dieng. Jika cuaca cerah dan langit
tanpa awan, kita bisa menyaksikan kedua gunung kembar itu menjulang di kejauhan,
seolah-olah melayang-layang di kebiruan langit, menyajikan sebuah pemandangan
yang tidak akan kita temukan di kota
besar. Hamparan ladang tembakau di kiri kanan jalan ikut menambah keindahan.
Semakin lengkap ketika melewati perbukitan Dieng yang dipenuhi kebun-kebun
kubis, kentang, dan kacang tanah. Kebun-kebun ini dibuat secara terasering,
mengikuti kontur lereng-lereng bukit. Sejauh mata menatap, hanya warna hijau
segar yang tampak. Sayangnya, kabel-kabel listrik yang berseliweran sering
mengganggu pemandangan, terutama saat kita ingin memotret.

Ada
beberapa obyek wisata di Dieng yang layak dikunjungi, antara lain: Telaga
Warna, Telaga Pengilon, Kawah Sikidang, sunrise
di Bukit Sikunir, dan candi-candi Hindu (Arjuna, Semar, Srikandi, Gatotkaca,
dan Bima). Selain itu, biasanya pada akhir Juni atau awal Juli digelar Dieng
Culture Festival yang menampilkan pertunjukan seni budaya dan tradisi setempat,
termasuk upacara pemotongan rambut anak-anak gimbal.
Telaga Warna adalah telaga yang
paling banyak dikunjungi wisatawan. Daya tariknya ada pada airnya yang beraneka
warna: hijau, kuning, biru, dan kadang-kadang merah. Warna merah adalah
pantulan warna ganggang yang banyak tumbuh di dasar telaga, sedangkan kuning
dan hijau disebabkan oleh belerang. Bersebelahan
dengan Telaga Warna adalah Telaga Pengilon. Dalam bahasa Jawa, pengilon bermakna cermin, cocok dengan
air di telaga ini yang biru bening serupa cermin memantulkan refleksi semua
benda di atasnya.


Kompleks Candi Arjuna tak kalah
menarik untuk dikunjungi. Kumpulan candi Hindu Syiwa ini dibangun sekitar abad
ke-8 jika merujuk keterangan pada sebuah prasasti di sana yang berangka tahun 808 M dalam huruf
Jawa kuno. Tepatnya ada empat unit bangunan candi di kompleks Candi Arjuna ini,
yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Gatotkaca, dan Candi Srikandi. Sebenarnya masih ada lagi beberapa candi
lain, tetapi sudah tinggal reruntuhannya saja. Sebuah lagi, Candi Bima, berada agak
jauh di luar kompleks tersebut. Keberadaan candi-candi ini menunjukkan bahwa
dahulu kala di situ pernah berdiri sebuah kerajaan Hindu.

Seperti telah disebut di atas,
sebagai bekas gunung api, di Dieng terhampar beberapa kawah aktif yang
menyajikan panorama tersendiri. Kepulan asap putih beraroma belerang adalah
sebuah fenomena alam yang bisa kita nikmati sembari mengagumi kebesaran Sang Pencipta.
Salah satunya adalah Kawah Sikidang. Semburan gas di sini relatif aman sehingga
kita bisa berdiri di bibir kawah, tidak seperti Kawah Sinila yang beracun dan
pernah memakan korban hingga ratusan jiwa pada 1979. Meski demikian, kita tetap harus berhati-hati.
Untuk menuju ke tepi kawah, bisa juga dengan berkuda yang tarifnya Rp 10.000,-.
Dari semua pesona alam Dieng,
yang paling fantastis adalah menonton matahari terbit di Bukit Sikunir. Ini
obyek wisata yang “wajib” dilihat oleh setiap wisatawan. Rasanya belum sah
jalan-jalan kita ke Dieng kalau belum menonton the sunrise show ini. Memang untuk mencapai puncak bukit tersebut
kita harus mendaki dulu pada dini hari dalam hawa dingin yang menusuk tulang. Sangat
disarankan untuk memakai pakaian tebal, sarung tangan, kaus kaki, dan kupluk.
Bagian mendaki ini cukup melelahkan bagi yang tidak terbiasa berjalan jauh.
Tetapi, semua rasa letih itu langsung terbayar lunas begitu kita tiba di atas
dan menjadi saksi mata kemunculan sang surya membuka hari. Berada di atas awan
dengan tiga buah gunung mengelilingi serta pemandangan matahari terbit di ufuk
dalam remang langit jingga, sungguh membuat kita sejenak merasa di surga. Percayalah, bagian ini akan menjadi momen
terbaik dan terindah yang akan selalu dikenang. Kuncinya, jangan sampai
terlambat berangkat agar tidak kesiangan tiba di puncak. Umumnya, para
pelancong sudah mulai berangkat pada pukul tiga pagi. Keuntungannya berangkat pagi
selain tidak ketinggalan show juga
bisa memilih “kursi” terbaik, terutama untuk yang ingin memotretnya.

Festival
Dieng
Setiap pertengahan tahun, Dieng
menggelar sebuah festival budaya yang diberi nama Dieng Culture Festival. Acara
ini tepatnya diselenggarakan di kawasan kompleks Candi Arjuna. Selama 3 hari 3
malam berlangsung keramaian layaknya sebuah pesta yang menyaijkan aneka hiburan
kesenian dan budaya Dieng. Mulai dari pertunjukan musik, tari-tarian, wayang
kulit, hingga puncaknya berupa ruwatan gembel (anak-anak berambut gimbal). Inilah bagian yang paling ditunggu-tunggu oleh
wisatawan karena hanya terjadi satu tahun sekali.

Keberadaan anak-anak berambut
gimbal ini menjadi fenomena unik yang mengundang perhatian publik luar Dieng. Mereka mendapat perlakuan istimewa karena
masyarakat di sana
meyakini bahwa anak-anak berambut gimbal ini adalah bajang titipan Ratu Kidul. Anda
boleh tidak percaya, tetapi rambut gimbal itu konon tidak bisa dihilangkan
hanya dengan mengguntingnya di salon atau tukang cukur, tetapi harus melalui
sebuah ritual ruwatan. Sebab, jika
dipotong tanpa melalui ruwatan, rambut gimbal itu akan tumbuh kembali dan si
anak akan sakit-sakitan. Diyakini pula bahwa ruwatan anak gimbal ini bisa
menghindarkan mereka dari bencana. Tidak ada batasan umur untuk melakukan acara
ruwatan ini, tergantung permintaan si pemilik rambut gimbal. Namun, umumnya dilaksanakan ketika anak-anak
itu berumur tujuh tahun ke atas. Tahun ini ada enam orang anak gimbal yang
diruwat. Upacaranya berlangsung di pelataran Candi Arjuna, disaksikan ribuan
pasang mata para wisatawan.
Sebelum diruwat, keenam anak
tersebut harus dikeramas dulu dalam sebuah upacara. Mereka diarak dalam sebuah kirab menuju tempat
pencucian rambut yang terletak tak jauh dari kompleks Candi Arjuna. Mereka juga
boleh mengajukan permintaan apa saja.
Dan permintaan itu harus dikabulkan oleh orang tua mereka. Lucu-lucu
permintaan anak-anak yang polos itu. Mulai dari permen, susu kotak, wedus (kambing), hingga anting-anting. Katanya
sih, permintaan itu merupakan keinginan indang,
makhluk gaib penjaga anak-anak gimbal itu. Ruwatan potong rambut tidak bisa
dilaksanakan sebelum permintaan si anak terpenuhi. Untung tidak ada yang minta
mobil, ya? Repot juga mengabulkannya.
Aneka sesaji berupa tumpeng
warna-warni, buah-buahan, dan jajan pasar disertakan dalam upacara yang telah
berlangsung secara turun-temurun selama bertahun-tahun. Pelaku pemotongan rambut
biasanya adalah para tetua adat dan pejabat daerah, seperti bupati dan wakilnya
Karena kekhasannya, ruwatan ini kemudian dilakukan massal dalam sebuah festival
budaya yang bisa disaksikan publik, terutama wisatawan dari luar Dieng. Pada
saat inilah jumlah wisatawan ke Dieng mencapai puncaknya.
Kuliner
Tak sempurna rasanya jika
jalan-jalan ke suatu tempat wisata tanpa mencicipi kuliner khasnya. Nah, di
Dieng ini kuliner yang terkenal adalah mi ongklok. Sekilas penampilannya dalam
mangkuk mirip dengan mi ayam. Mi ongklok ini mi rebus berkuah kental (loh),
ditambah kubis dan daun kucai. Rasanya manis-manis gurih, mirip mi yamin. Lebih
nikmat jika dimakan selagi panas dengan sate daging sapi dan tempe
kemul, Pas betul sebagai hidangan pengusir dingin. Harganya berkisar antara
Rp 7.500,- hingga Rp 10.000,- per porsi.
Selain sebagai teman makan mi
ongklok, tempe kemul juga bisa dikudap sebagai
cemilan. Tempe kemul adalah sebutan bagi tempe
goreng tepung. Dimakannya dengan cabe rawit selagi hangat. Harganya tak jauh
beda dengan harga di Jakarta:
Rp 500,- hingga Rp 1.000,- per potong.
Sebagai penghasil kentang tak
heran jika di Dieng ini banyak kita temukan cemilan berupa kentang goreng ala
restoran cepat saji. Kentang goreng ini memiliki rasa yang khas. Seperti
kentang goreng umumnya, kentang goreng ala Dieng ini juga lebih enak dimakan
dengan saus atau mayones. Kentang-kentang ini dijual dengan harga Rp 5.000,-
per porsi.
Berikutnya adalah keripik
jamur. Dieng sangat terkenal sebagai penghasil jamur. Jamur-jamur itu diolah
menjadi keripik renyah yang digoreng dengan ataupun tanpa tepung. Harganya
lumayan mahal, sekitar Rp 10.000,- sampai Rp 12.000,- per bungkus ukuran kurang
dari seperempat kilo. Keripik jamur ini cocok sebagai oleh-oleh, karena tahan
lama, ringan, dan mudah membawanya.
Yang juga sangat terkenal dan
konon hanya ada di Dieng adalah carica, yaitu manisan pepaya yang dikemas dalam
botol atau mangkuk-mangkuk plastik. Mengapa cuma ada di Dieng? Sebab, carica
ini dibuat dari buah pepaya mini seukuran labu siam mini yang hanya tumbuh di
lereng-lereng Plato Dieng. Sepanjang jalan kita dapat dengan mudah menemukan
pohon-pohonnya yang sarat buah.
Dan yang tidak boleh lupa
disebut dalam daftar oleh-oleh tentu saja purwaceng, minuman lokal yang dibuat
dari tanaman sejenis ginseng. Tadinya, tanaman ini adalah tanaman yang tumbuh
liar di hutan-hutan, tetapi seiring dengan meningkatnya popularitas tanaman
ini, masyarakat di sana
kemudian mulai membudidayakannya. Tanaman yang bernama Latin pimpinela alpina ini dipercaya memiliki
khasiat sebagai “obat kuat” bagi para pria. Rasanya sebenarnya tidak istimewa,
nyaris tawar saja jika dikonsumsi tanpa gula atau campuran lainnya.
Tips
Bagi kamu yang ingin berkunjung
ke Dieng, sebaiknya tidak lupa membawa barang-barang sebagai berikut:
- Baju hangat/sweater/jaket/sarung
sebagai penangkal hawa dingin.
- Sepatu kets yang nyaman untuk dipakai berjalan
jauh dan mendaki mengingat wisata di Dieng ini lebih banyak berupa wisata alam
yang mengharuskan kita berjalan kaki, karena banyak tempat yang tidak terjangkau kendaraan. (Nggak mungkin kan
ke puncak bukit pakai mobil?)
- Kaus kaki, sebaiknya yang terbuat dari bahan
wol.
- Sarung tangan, sebaiknya juga yang terbuat dari
bahan wol.
- Topi atau kupluk , juga dari bahan wol.
- Kacamata hitam untuk melindungi mata dari sinar
matahari yang terik.
- Masker, sangat diperlukan saat mengunjungi
kawah-kawah belerang dan saat berjalan di jalan tanah yang berdebu.
- Senter, untuk penerangan saat hiking ke Bukit
Sikunir. Maklum, jalannya kan
pagi-pagi buta.
- Lotion pelembap
kulit, agar kulit tidak kering di suhu yang dingin
- Lipgloss, agar
bibir tidak kering dan pecah-pecah di suhu yang dingin.
- Kamera
beserta baterai cadangan dan charger-nya.
Pastinya ini barang yang wajib dibawa oleh setiap wisatawan Kalau perlu bawa
juga memory card cadangan sebagai antisipasi siapa tahu kita mendadak kalap memotret melihat panorama yang menggiurkan mata itu.
- Obat-obatan
pribadi.
Selamat berwisata!