Selasa, 30 Juli 2013

DIENG: SEPOTONG SURGA

Sejarah
Berada di ketinggian lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut, Plato Dieng konon merupakan plato tertingi kedua di dunia setelah Tibet.  Secara administratif Dieng berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah.  Berada sekitar 116 kilometer dari Yogyakarta. Di ketinggian tersebut, suhu harian di luar ruangan bisa mencapai 9 derajat celcius. Biasanya itu terjadi pada menjelang tengah malam.  Pada siang hari udara terasa sejuk meskipun matahari bersinar terik. Paduan suhu sejuk dan keindahan alam ini membuat Dieng menjadi daerah tujuan wisata favorit di Provinsi Jawa Tengah setelah Yogyakarta.

Nama Dieng berasal dari kata “di” yang bermakna gunung, dan “hyang” yang artinya dewa.  Jadi, kedua kata tersebut dalam bahasa Kawi jika digabungkan memiliki arti gunung tempat bersemayam dewa-dewi.
Menurut sejarah geologinya, dataran tinggi ini, terbentuk akibat letusan sebuah gunung berapi yang sangat dahsyat. Hal ini terbukti dengan banyaknya kawah aktif yang tersebar di beberapa tempat dan kini menjadi obyek wisata. Kawah-kawah ini sesungguhnya berada di sebuah kaldera raksasa dengan bukit-bukit yang merupakan tepinya. Kawah-kawah tersebut mengeluarkan gas panas dan material vulkanik lainnya. Di sana juga masih sering terjadi gempa bumi vulkanik, meskipun getarannya tidak besar.



Selain kawah, gunung api yang meletus hebat itu juga melahirkan telaga-telaga cantik. Telaga-telaga itu sebenarnya adalah danau-danau vulkanik yang airnya telah terkontaminasi belerang sehingga menimbulkan warna hijau kekuningan.


Transportasi
Dieng dapat dicapai melalui jalan darat dengan menggunakan mobil atau kereta api. Dari Jakarta, jarak tempuhnya memakan waktu 8 hingga 10 jam jika memakai mobil, baik lewat jalur Pantura maupun jalur selatan.  Buat yang memakai kendaraan umum, bisa naik bus jurusan Jakarta-Wonosobo dan turun di Terminal Wonosobo. Dari terminal Wonosobo Anda bisa naik minibus jurusan Dieng-Batur. Lama perjalanan kira-kira 30-45 menit.  Kalau menggunakan kereta, turun di Stasiun Purwokerto, lalu dengan taksi atau mobil carteran menuju ke Terminal Wonosobo. Dari terminal tinggal naik minibus jurusan Dieng-Batur tadi.

Penginapan
Buat pengunjung yang datang dari luar kota dan ingin menginap, tidak perlu khawatir, karena di Dieng tersedia banyak sekali penginapan, baik berupa hotel maupun homestayHomestay-homestay ini kebanyakan milik penduduk setempat. Biasanya satu homestay terdiri dari 3 sampai 5 kamar. Masing-masing kamar boleh diisi tiga orang. Fasilitasnya macam-macam, tergantung harga. Homestay-homestay ini disewakan per kamar.  Tarif per kamarnya mulai dari Rp 150.000,- hingga Rp 300.000,- semalam. Jika Anda berkunjung ke sana pada musim liburan, sebaiknya lebih dulu memesan penginapan agar tidak perlu repot-repot lagi mencarinya di sana.

Obyek Wisata
Sebagai daerah wisata, yang dijual Dieng adalah pesona keindahan panorama dataran tinggi yang bertetangga dengan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Kita akan disambut oleh lansekap yang menakjubkan sejak tiba di “pintu masuk” Dieng. Jika cuaca cerah dan langit tanpa awan, kita bisa menyaksikan kedua gunung kembar itu menjulang di kejauhan, seolah-olah melayang-layang di kebiruan langit, menyajikan sebuah pemandangan yang tidak akan kita temukan di kota besar. Hamparan ladang tembakau di kiri kanan jalan ikut menambah keindahan. Semakin lengkap ketika melewati perbukitan Dieng yang dipenuhi kebun-kebun kubis, kentang, dan kacang tanah. Kebun-kebun ini dibuat secara terasering, mengikuti kontur lereng-lereng bukit. Sejauh mata menatap, hanya warna hijau segar yang tampak. Sayangnya, kabel-kabel listrik yang berseliweran sering mengganggu pemandangan, terutama saat kita ingin memotret.


Ada beberapa obyek wisata di Dieng yang layak dikunjungi, antara lain: Telaga Warna, Telaga Pengilon, Kawah Sikidang, sunrise di Bukit Sikunir, dan candi-candi Hindu (Arjuna, Semar, Srikandi, Gatotkaca, dan Bima). Selain itu, biasanya pada akhir Juni atau awal Juli digelar Dieng Culture Festival yang menampilkan pertunjukan seni budaya dan tradisi setempat, termasuk upacara pemotongan rambut anak-anak gimbal.
Telaga Warna adalah telaga yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Daya tariknya ada pada airnya yang beraneka warna: hijau, kuning, biru, dan kadang-kadang merah. Warna merah adalah pantulan warna ganggang yang banyak tumbuh di dasar telaga, sedangkan kuning dan hijau disebabkan oleh belerang. Bersebelahan dengan Telaga Warna adalah Telaga Pengilon. Dalam bahasa Jawa, pengilon bermakna cermin, cocok dengan air di telaga ini yang biru bening serupa cermin memantulkan refleksi semua benda di atasnya.



Kompleks Candi Arjuna tak kalah menarik untuk dikunjungi. Kumpulan candi Hindu Syiwa ini dibangun sekitar abad ke-8 jika merujuk keterangan pada sebuah prasasti di sana yang berangka tahun 808 M dalam huruf Jawa kuno. Tepatnya ada empat unit bangunan candi di kompleks Candi Arjuna ini, yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Gatotkaca, dan Candi Srikandi.  Sebenarnya masih ada lagi beberapa candi lain, tetapi sudah tinggal reruntuhannya saja. Sebuah lagi, Candi Bima, berada agak jauh di luar kompleks tersebut. Keberadaan candi-candi ini menunjukkan bahwa dahulu kala di situ pernah berdiri sebuah kerajaan  Hindu.


Seperti telah disebut di atas, sebagai bekas gunung api, di Dieng terhampar beberapa kawah aktif yang menyajikan panorama tersendiri. Kepulan asap putih beraroma belerang adalah sebuah fenomena alam yang bisa kita nikmati sembari mengagumi kebesaran Sang Pencipta. Salah satunya adalah Kawah Sikidang. Semburan gas di sini relatif aman sehingga kita bisa berdiri di bibir kawah, tidak seperti Kawah Sinila yang beracun dan pernah memakan korban hingga ratusan jiwa pada 1979.  Meski demikian, kita tetap harus berhati-hati. Untuk menuju ke tepi kawah, bisa juga dengan berkuda yang tarifnya Rp 10.000,-.



Dari semua pesona alam Dieng, yang paling fantastis adalah menonton matahari terbit di Bukit Sikunir. Ini obyek wisata yang “wajib” dilihat oleh setiap wisatawan. Rasanya belum sah jalan-jalan kita ke Dieng kalau belum menonton the sunrise show ini. Memang untuk mencapai puncak bukit tersebut kita harus mendaki dulu pada dini hari dalam hawa dingin yang menusuk tulang. Sangat disarankan untuk memakai pakaian tebal, sarung tangan, kaus kaki, dan kupluk. Bagian mendaki ini cukup melelahkan bagi yang tidak terbiasa berjalan jauh. Tetapi, semua rasa letih itu langsung terbayar lunas begitu kita tiba di atas dan menjadi saksi mata kemunculan sang surya membuka hari. Berada di atas awan dengan tiga buah gunung mengelilingi serta pemandangan matahari terbit di ufuk dalam remang langit jingga, sungguh membuat kita sejenak merasa di surga.  Percayalah, bagian ini akan menjadi momen terbaik dan terindah yang akan selalu dikenang. Kuncinya, jangan sampai terlambat berangkat agar tidak kesiangan tiba di puncak. Umumnya, para pelancong sudah mulai berangkat pada pukul tiga pagi. Keuntungannya berangkat pagi selain tidak ketinggalan show juga bisa memilih “kursi” terbaik, terutama untuk yang ingin memotretnya.


Festival Dieng
Setiap pertengahan tahun, Dieng menggelar sebuah festival budaya yang diberi nama Dieng Culture Festival. Acara ini tepatnya diselenggarakan di kawasan kompleks Candi Arjuna. Selama 3 hari 3 malam berlangsung keramaian layaknya sebuah pesta yang menyaijkan aneka hiburan kesenian dan budaya Dieng. Mulai dari pertunjukan musik, tari-tarian, wayang kulit, hingga puncaknya berupa ruwatan gembel (anak-anak berambut gimbal).  Inilah bagian yang paling ditunggu-tunggu oleh wisatawan karena hanya terjadi satu tahun sekali.


Keberadaan anak-anak berambut gimbal ini menjadi fenomena unik yang mengundang perhatian publik luar Dieng.  Mereka mendapat perlakuan istimewa karena masyarakat di sana meyakini bahwa anak-anak berambut gimbal ini adalah bajang titipan Ratu Kidul. Anda boleh tidak percaya, tetapi rambut gimbal itu konon tidak bisa dihilangkan hanya dengan mengguntingnya di salon atau tukang cukur, tetapi harus melalui sebuah ritual ruwatan.  Sebab, jika dipotong tanpa melalui ruwatan, rambut gimbal itu akan tumbuh kembali dan si anak akan sakit-sakitan. Diyakini pula bahwa ruwatan anak gimbal ini bisa menghindarkan mereka dari bencana. Tidak ada batasan umur untuk melakukan acara ruwatan ini, tergantung permintaan si pemilik rambut gimbal.  Namun, umumnya dilaksanakan ketika anak-anak itu berumur tujuh tahun ke atas. Tahun ini ada enam orang anak gimbal yang diruwat. Upacaranya berlangsung di pelataran Candi Arjuna, disaksikan ribuan pasang mata para wisatawan. 



Sebelum diruwat, keenam anak tersebut harus dikeramas dulu dalam sebuah upacara.  Mereka diarak dalam sebuah kirab menuju tempat pencucian rambut yang terletak tak jauh dari kompleks Candi Arjuna. Mereka juga boleh mengajukan permintaan apa saja.  Dan permintaan itu harus dikabulkan oleh orang tua mereka. Lucu-lucu permintaan anak-anak yang polos itu. Mulai dari permen, susu kotak, wedus (kambing), hingga anting-anting. Katanya sih, permintaan itu merupakan keinginan indang, makhluk gaib penjaga anak-anak gimbal itu. Ruwatan potong rambut tidak bisa dilaksanakan sebelum permintaan si anak terpenuhi. Untung tidak ada yang minta mobil, ya? Repot juga mengabulkannya.

Aneka sesaji berupa tumpeng warna-warni, buah-buahan, dan jajan pasar disertakan dalam upacara yang telah berlangsung secara turun-temurun selama bertahun-tahun. Pelaku pemotongan rambut biasanya adalah para tetua adat dan pejabat daerah, seperti bupati dan wakilnya Karena kekhasannya, ruwatan ini kemudian dilakukan massal dalam sebuah festival budaya yang bisa disaksikan publik, terutama wisatawan dari luar Dieng. Pada saat inilah jumlah wisatawan ke Dieng mencapai puncaknya.



Kuliner
Tak sempurna rasanya jika jalan-jalan ke suatu tempat wisata tanpa mencicipi kuliner khasnya. Nah, di Dieng ini kuliner yang terkenal adalah mi ongklok. Sekilas penampilannya dalam mangkuk mirip dengan mi ayam. Mi ongklok ini mi rebus berkuah kental (loh), ditambah kubis dan daun kucai. Rasanya manis-manis gurih, mirip mi yamin. Lebih nikmat jika dimakan selagi panas dengan sate daging sapi dan tempe kemul, Pas betul sebagai hidangan pengusir dingin. Harganya berkisar antara Rp 7.500,- hingga Rp 10.000,- per porsi.
Selain sebagai teman makan mi ongklok, tempe kemul juga bisa dikudap sebagai cemilan. Tempe kemul adalah sebutan bagi tempe goreng tepung. Dimakannya dengan cabe rawit selagi hangat. Harganya tak jauh beda dengan harga di Jakarta: Rp 500,- hingga Rp 1.000,- per potong.

 Sebagai penghasil kentang tak heran jika di Dieng ini banyak kita temukan cemilan berupa kentang goreng ala restoran cepat saji. Kentang goreng ini memiliki rasa yang khas. Seperti kentang goreng umumnya, kentang goreng ala Dieng ini juga lebih enak dimakan dengan saus atau mayones. Kentang-kentang ini dijual dengan harga Rp 5.000,- per porsi.

Berikutnya adalah keripik jamur. Dieng sangat terkenal sebagai penghasil jamur. Jamur-jamur itu diolah menjadi keripik renyah yang digoreng dengan ataupun tanpa tepung. Harganya lumayan mahal, sekitar Rp 10.000,- sampai Rp 12.000,- per bungkus ukuran kurang dari seperempat kilo. Keripik jamur ini cocok sebagai oleh-oleh, karena tahan lama, ringan, dan mudah membawanya.

Yang juga sangat terkenal dan konon hanya ada di Dieng adalah carica, yaitu manisan pepaya yang dikemas dalam botol atau mangkuk-mangkuk plastik. Mengapa cuma ada di Dieng? Sebab, carica ini dibuat dari buah pepaya mini seukuran labu siam mini yang hanya tumbuh di lereng-lereng Plato Dieng. Sepanjang jalan kita dapat dengan mudah menemukan pohon-pohonnya yang sarat buah.

Dan yang tidak boleh lupa disebut dalam daftar oleh-oleh tentu saja purwaceng, minuman lokal yang dibuat dari tanaman sejenis ginseng. Tadinya, tanaman ini adalah tanaman yang tumbuh liar di hutan-hutan, tetapi seiring dengan meningkatnya popularitas tanaman ini, masyarakat di sana kemudian mulai membudidayakannya. Tanaman yang bernama Latin pimpinela alpina ini dipercaya memiliki khasiat sebagai “obat kuat” bagi para pria. Rasanya sebenarnya tidak istimewa, nyaris tawar saja jika dikonsumsi tanpa gula atau campuran lainnya. 

Tips
Bagi kamu yang ingin berkunjung ke Dieng, sebaiknya tidak lupa membawa barang-barang sebagai berikut:

- Baju hangat/sweater/jaket/sarung sebagai penangkal hawa dingin.
- Sepatu kets yang nyaman untuk dipakai berjalan jauh dan mendaki mengingat wisata di Dieng ini lebih       banyak berupa wisata alam yang mengharuskan kita berjalan kaki, karena banyak tempat yang tidak     terjangkau kendaraan. (Nggak mungkin kan ke puncak bukit pakai mobil?)
- Kaus kaki, sebaiknya yang terbuat dari bahan wol.
- Sarung tangan, sebaiknya juga yang terbuat dari bahan wol.
- Topi atau kupluk , juga dari bahan wol.
 Kacamata hitam untuk melindungi mata dari sinar matahari yang terik.
- Masker, sangat diperlukan saat mengunjungi kawah-kawah belerang dan saat berjalan di jalan tanah yang berdebu. 
- Senter, untuk penerangan saat hiking ke Bukit Sikunir. Maklum, jalannya kan pagi-pagi buta.
Lotion pelembap kulit, agar kulit tidak kering di suhu yang dingin
Lipgloss, agar bibir tidak kering dan pecah-pecah di suhu yang dingin. 
- Kamera beserta baterai cadangan dan charger-nya. Pastinya ini barang yang wajib dibawa oleh setiap wisatawan  Kalau perlu bawa juga memory card cadangan sebagai antisipasi siapa tahu kita mendadak kalap memotret melihat panorama yang menggiurkan mata itu.
- Obat-obatan pribadi.


Selamat berwisata!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar