Kamis, 29 Agustus 2013

BERBURU DRUPADI

Setelah sempat tertunda, akhirnya tadi siang (29 Agustus 2013) saya menyempatkan diri menikmati pameran keramik karya F. Widayanto. Saya belum pernah melihat pameran karya seniman berusia 60 tahun ini. Inilah pertama kalinya saya mendengar namanya dan menyatroni pamerannya yang diberi judul DRUPADI PANDAWA DIVA.


Sebagai pelengkap pameran, F. Widayanto juga menerbitkan buku dengan judul yang sama dengan pamerannya. Buku luks tersebut dijual dengan harga Rp 250.000,-. Ada sebuah buku contoh yang sengaja diletakkan di ruang tengah pameran-- Galeri Nasional, Jakarta--agar bisa dibaca para pengunjung. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Maka tahulah saya bahwa pameran ini digelar untuk merayakan 30 tahun kiprah F. Widayanto sebagai seniman tembikar. Bukan waktu yang singkat. Itu sama dengan separuh usianya. 

Dari buku itu pula saya mengulik beberapa informasi tentang dia dan karya-karyanya. Rupanya, F. Widayanto seniman yang menggandrungi wayang. Beberapa pameran sebelumnya juga mengambil tema wayang: Semar, Loro-Blonyo, dan Ganesha-Ganeshi. 


Kali ini dia menampilkan sosok Drupadi, istri Pandawa Lima.  Dalam 30 karya patung yang dipamerkan itu, F. Widayanto mengeksplorasi karakter Drupadi menurut tafsirannya. 


Dan yang saya tangkap, Widayanto menafsirkan Drupadi sebagai perempuan bertubuh seksi, buah dada besar, punya tahi lalat kecil di dekat dagu sebelah kanan, berambut cokelat tanah yang panjang menjuntai, bermata cemerlang, sensual, dan menantang. Drupadi adalah seorang perempuan yang menyadari betul kecantikannya. Beberapa di antaranya mengingatkan saya pada boneka Barbie.



Namun, jangan ditanya keindahannya. Luar biasa. Empat jempol deh. Benar-benar karya yang cantik dan membuat saya ternganga mengagumi detail-detailnya yang rumit. Pantaslah jika patung-patung tersebut berharga ratusan juta rupiah. Kata petugas pameran, patung termahal di pameran itu dijual dengan harga empat ratus lima puluh ribu rupiah. Patung itu berjudul: Dru Vs Dur yang menggambarkan adegan paling terkenal dari episode Drupadi: saat Dursasana berusaha menelanjanginya dengan menarik kain yang dikenakannya. Tapi berkat pertolongan dewa-dewa, kain yang dipakai Drupadi itu tiba-tiba menjadi sangat panjang sehingga Dursasana tak pernah selesai menariknya dan Drupadi pun selamat. Perempuan jelita itu lalu bersumpah tidak akan menggelung dan mengeramas rambutnya sampai Dursasana mati. Saat itulah Dru akan keramas dengan darah Dur.. 


Dan ketika akhirnya Dur mati ditangan Bima, Drupadi pun memenuhi sumpahnya. Ia keramas dengan berember-ember darah Dursasana. Oh, saya paling suka bagian ini.

Menurut keterangan di buku tadi, patung-patung ini dibuat dari bahan dasar yang disebut "stoneware", yaitu tanah liat yang dicampur dengan bahan batuan. Jadi, bukan terakota atau porselen.

Terlepas dari tafsir Widayanto, patung-patung keramik Drupadi ini sungguh sedap dipandang mata. Sebuah karya seni tingkat tinggi yang mengagumkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar