Bagi kita yang mengalami masa kecil di era 80-an, ketika
stasiun tivi cuma ada satu-satunya milik pemerintah, TVRI, tentu sangat akrab
dengan sosok Pak Raden. Dengan kumis dan alis tebal serta wataknya yang
pemarah, ia tampil di setiap episode film boneka Si
Unyil yang tayang setiap Minggu pagi. Ia orang yang menyebalkan, kikir,
galak, tetapi sekaligus kehadirannya dinanti-nanti penonton. Tak seru rasanya Si Unyil tanpa Pak Raden.
Dan kita semua tahu, di balik tokoh pemarah itu adalah Drs.
Suyadi, seorang pendongeng andal yang disukai anak-anak. Dialah pencipta Unyil
dan kawan-kawan yang sayangnya gagal merebut kembali hak cipta si Unyil dari
tangan Perum Produksi Film Negara (PFN).
Suyadi lahir di Jember pada 28 November 1932. Dia
menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Seni Rupa ITB dan melanjutkan studinya
tentang animasi ke Prancis.
Pada suatu kesempatan saya berkunjung ke rumah beliau di
bilangan Petamburan, Jakarta Barat. Rumah kecil sederhana di sebuah gang dekat
dengan markas FPI (Front Pembela Islam) itu ditinggalinya seorang diri.
Ketika saya diperkenankan menjelajah isi rumahnya, saya
menemukan sebuah ruang di belakang yang penuh berisi boneka si Unyil dan
kawan-kawan. Beliau juga seorang seniman
gambar yang baik. Di rumah kecilnya itu bertebaran hasil karya gambar dan
lukisnya, memenuhi hampir setiap dinding. Pada tahun 2013, ia menggelar pameran
sketsa hitam-putih bertajuk “Noir et Blanc” di Bentara Budaya Jakarta.
Di usia tuanya, lelaki yang memilih hidup melajang ini,
menderita sakit dan kerap kesulitan biaya untuk berobat. Sepertinya tidak ada perhatian yang memadai
dari pemerintah.
Dan pada Jumat (30 Oktober 2015) malam, sang legenda itu
mengembuskan napasnya yang terakhir di Rumah Sakit Pelni, Petamburan.
Selamat jalan, Pak Raden. Selamat sampai di surga. Terima kasih untuk Unyil-mu yang telah turut
mewarnai masa kanak-kanak saya. Semoga kau tak lagi menderita di sana...



Tidak ada komentar:
Posting Komentar