Sabtu, 31 Oktober 2015

SELAMAT JALAN, PAK RADEN...



Bagi kita yang mengalami masa kecil di era 80-an, ketika stasiun tivi cuma ada satu-satunya milik pemerintah, TVRI, tentu sangat akrab dengan sosok Pak Raden. Dengan kumis dan alis tebal serta wataknya yang pemarah, ia tampil di setiap episode film boneka  Si Unyil yang tayang setiap Minggu pagi. Ia orang yang menyebalkan, kikir, galak, tetapi sekaligus kehadirannya dinanti-nanti penonton. Tak seru rasanya Si Unyil tanpa Pak Raden.

Dan kita semua tahu, di balik tokoh pemarah itu adalah Drs. Suyadi, seorang pendongeng andal yang disukai anak-anak. Dialah pencipta Unyil dan kawan-kawan yang sayangnya gagal merebut kembali hak cipta si Unyil dari tangan Perum Produksi Film Negara (PFN).

Suyadi lahir di Jember pada 28 November 1932. Dia menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Seni Rupa ITB dan melanjutkan studinya tentang animasi ke Prancis.

Pada suatu kesempatan saya berkunjung ke rumah beliau di bilangan Petamburan, Jakarta Barat. Rumah kecil sederhana di sebuah gang dekat dengan markas FPI (Front Pembela Islam) itu ditinggalinya seorang diri.

Ketika saya diperkenankan menjelajah isi rumahnya, saya menemukan sebuah ruang di belakang yang penuh berisi boneka si Unyil dan kawan-kawan.  Beliau juga seorang seniman gambar yang baik. Di rumah kecilnya itu bertebaran hasil karya gambar dan lukisnya, memenuhi hampir setiap dinding. Pada tahun 2013, ia menggelar pameran sketsa hitam-putih bertajuk “Noir et Blanc” di Bentara Budaya Jakarta.



Di usia tuanya, lelaki yang memilih hidup melajang ini, menderita sakit dan kerap kesulitan biaya untuk berobat.  Sepertinya tidak ada perhatian yang memadai dari pemerintah. 

Dan pada Jumat (30 Oktober 2015) malam, sang legenda itu mengembuskan napasnya yang terakhir di Rumah Sakit Pelni, Petamburan. 

Selamat jalan, Pak Raden. Selamat sampai di surga.  Terima kasih untuk Unyil-mu yang telah turut mewarnai masa kanak-kanak saya. Semoga kau tak lagi menderita di sana...
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar